Seaplane Jadi Andalan Baru NTB Tingkatkan Pariwisata Regional

Mataram, Nusranews – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menguatkan konektivitas antarwilayah dan destinasi wisata sebagai strategi utama pengembangan sektor pariwisata. Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah kerja sama pembangunan bandar khusus bagi pesawat amfibi (seaplane) yang akan menghubungkan Bali, NTB, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Dinas Perhubungan NTB, Ervan Anwar, menegaskan bahwa konektivitas menjadi isu strategis dalam kerja sama regional Bali–NTB–NTT yang telah diformalkan melalui penandatanganan MoU di Labuan Bajo.

“Dinas Perhubungan Provinsi NTB memang fokus pada penguatan konektivitas dalam kerja sama regional Bali, NTB, dan NTT. Ini penting untuk mendukung sektor pariwisata,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Rabu (15/04).

Sebagai bagian dari inovasi, NTB menawarkan pengembangan jalur seaplane yang menghubungkan berbagai destinasi wisata di Bali, Lombok, Sumbawa hingga Labuan Bajo. Bendungan Batujai di Lombok Tengah direncanakan menjadi titik hub utama, yang saat ini masih dalam proses pengurusan perizinan oleh pihak mitra.

“NTB menawarkan pengembangan seaplane dengan rute Bali-NTB-NTT. Di NTB, titik tengah hub berada di Bendungan Batujai yang saat ini masih dalam proses pengurusan perizinan oleh pihak mitra,” kata Ervan.

Ia menjelaskan bahwa konsep seaplane mengombinasikan transportasi udara dan perairan, sehingga tidak memerlukan landasan pacu konvensional. Pesawat cukup menggunakan area perairan dengan panjang sekitar 400 meter untuk lepas landas dan mendarat.

“Seaplane ini tidak butuh run way yang panjang sebagaimana di bandara pada umumnya, kalau di atas air cukup dengan panjang 400 meter untuk take-off dan landing,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran seaplane akan membuka akses ke berbagai destinasi wisata jarak pendek di NTB, seperti kawasan Gili Tramena, Gili di sekitar Sekotong, Lombok Timur hingga Teluk Saleh, yang selama ini relatif sulit dijangkau secara cepat.

“Ini untuk spot-spot wisata jarak pendek, sehingga wisatawan bisa mengunjungi banyak destinasi dalam waktu singkat,” ujarnya.

Namun demikian, layanan ini diproyeksikan menyasar wisatawan kelas menengah ke atas atau premium yang memiliki keterbatasan waktu.

“Sasarannya memang wisatawan premium, yang waktunya singkat tapi ingin mengunjungi banyak tempat,” kata Ervan.

Saat ini, pembangunan fasilitas di Batujai masih berada pada tahap pemenuhan regulasi, baik dari aspek penerbangan maupun pemanfaatan ruang perairan. Pemerintah NTB masih menunggu proses tersebut selesai sebelum memperluas kerja sama dengan Bali dan NTT.

Selain pengembangan seaplane, Pemprov NTB juga tengah memfasilitasi operasional dermaga di kawasan KEK Mandalika. Dermaga ini direncanakan terhubung dengan KEK Sanur di Bali melalui layanan kapal cepat (fast boat), dengan proses perizinan yang masih berjalan di kementerian terkait.

“ Kita saat ini juga sedang berusaha kembangkan Dermaga Passport dari Sanur ke Mandalika. Proses perizinannya sudah masuk di Kementerian KKP,” terangnya.

Di sisi lain, Ervan menegaskan bahwa penguatan konektivitas tidak hanya melalui jalur udara, tetapi juga darat dan laut. Pemerintah tetap mendorong integrasi transportasi melalui skema subsidi, khususnya untuk angkutan umum.

“Transportasi itu tidak bisa lepas dari subsidi. Bahkan di negara maju pun masih ada subsidi untuk menjaga keterjangkauan,” tandasnya.

Dengan integrasi transportasi darat, laut, dan udara, NTB diharapkan mampu menjadi pusat konektivitas wisata di kawasan timur Indonesia serta meningkatkan daya saing destinasi secara regional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *