Fasilitas Energi Arab Saudi Pulih Usai Serangan Iran, Pasokan Kembali Stabil

Jakarta, Nusranews Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa jalur pipa minyak utama timur-barat serta sejumlah fasilitas energi lainnya telah kembali beroperasi normal setelah sempat terdampak serangan dari Iran.

Melalui laporan Kantor Berita Saudi (SPA) yang dikutip Agence France-Presse pada Minggu (12/04), pemerintah Saudi menegaskan bahwa proses pemulihan berjalan cepat sehingga pasokan energi kembali andal.

“Fasilitas energi dan jalur pipa timur-barat yang sebelumnya terdampak kini telah pulih dan beroperasi kembali, sehingga meningkatkan keandalan distribusi,” demikian pernyataan resmi Kementerian Energi Saudi.

Serangan terhadap infrastruktur energi ini terjadi menjelang dimulainya gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Teheran menuding negara-negara Teluk memberi akses kepada militer AS untuk melancarkan operasi serangan dari wilayah mereka.

Namun, tudingan tersebut telah dibantah oleh negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi.

Pihak kementerian menyebutkan bahwa perbaikan operasional dan teknis berhasil mengembalikan kapasitas penuh jalur pipa timur-barat, yang mampu mengalirkan hingga sekitar tujuh juta barel minyak per hari. Sebelumnya, serangan tersebut sempat mengurangi kapasitas pemompaan hingga sekitar 700.000 barel per hari.

Selain itu, dampak serangan juga dirasakan di sejumlah ladang minyak strategis. Produksi di ladang Manifa kini telah kembali normal, sementara pemulihan di ladang Khurais masih terus berlangsung untuk mencapai kapasitas penuh.

Pemerintah Saudi sebelumnya mengonfirmasi bahwa rangkaian serangan selama beberapa pekan terakhir tidak hanya mengganggu produksi energi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Setidaknya tiga orang dilaporkan meninggal dunia sejak konflik meningkat.

Salah satu target serangan adalah stasiun pompa di jalur pipa minyak vital timur-barat, yang dikenal sebagai Petroline. Jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer ini menghubungkan wilayah Teluk di timur dengan Laut Merah di barat, dan menjadi jalur distribusi utama terutama ketika Selat Hormuz tidak dapat dilalui.

Sejumlah fasilitas lain di Riyadh, Provinsi Timur, hingga kawasan industri Yanbu juga menjadi sasaran, termasuk infrastruktur produksi, transportasi, penyulingan minyak dan gas, serta fasilitas petrokimia dan pembangkit listrik.

Dengan pulihnya infrastruktur utama tersebut, pemerintah Saudi optimistis stabilitas pasokan energi global dapat kembali terjaga di tengah ketegangan geopolitik kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *