BNPT dan FKPT NTB Matangkan Strategi Pencegahan Terorisme di Daerah

Mataram, Nusranews – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Nusa Tenggara Barat (FKPT NTB) terus memperkuat strategi pencegahan penyebaran paham radikalisme dan terorisme di daerah.

Ketua FKPT/BNPT NTB, Ruslan Abdul Gani, menegaskan bahwa kolaborasi lintas lembaga menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas dan ketahanan masyarakat dari pengaruh ideologi ekstrem.

FKPT NTB bersama jajaran pengurus menggelar rapat koordinasi dengan Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA) dan Badan Intelijen Strategis (BAIS). Rapat tersebut difokuskan untuk mempertajam program kerja, menyelaraskan strategi, mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan radikalisme-terorisme, serta menindaklanjuti arahan BNPT dalam memperkuat kolaborasi kelembagaan, Minggu (01/02).

“Pencegahan radikalisme tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja bersama, deteksi dini yang kuat, serta pendekatan yang adaptif sesuai perkembangan zaman,” ujar mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) NTB ini..

Ia menjelaskan bahwa dalam rapat tersebut dibahas sejumlah program prioritas, antara lain penguatan deteksi dini, peningkatan wawasan kebangsaan, literasi digital, serta pendekatan berbasis kebudayaan dan kearifan lokal bagi generasi muda.

Menurutnya, literasi digital menjadi strategi penting di tengah derasnya arus informasi di ruang siber. Literasi tidak hanya menyangkut kemampuan teknis menggunakan teknologi, tetapi juga membangun daya kritis dan kesadaran masyarakat dalam memilah informasi.

“Literasi digital mencakup kemampuan menyaring informasi atau anti-hoaks, serta mendorong produktivitas dan kreativitas dalam kehidupan sehari-hari maupun profesional. Dengan budaya digital yang sehat, masyarakat akan lebih cerdas dalam berinteraksi di ruang digital dan tidak mudah terpapar paham radikal yang mengarah pada terorisme,” jelasnya.

Selain pendekatan digital, FKPT NTB juga menekankan pentingnya penguatan nilai budaya dan kearifan lokal sebagai benteng sosial terhadap radikalisme. Integrasi nilai budaya, seni, dan sejarah lokal dalam pendidikan serta aktivitas masyarakat dinilai efektif memperkuat moderasi beragama dan kohesi sosial.

“Nilai gotong royong dan tradisi lokal adalah filter alami sekaligus fondasi ketahanan budaya (cultural resilience) terhadap radikalisme. Generasi muda perlu ditanamkan kebanggaan terhadap identitas lokalnya,” tambah Ruslan.

Program lain yang akan terus diperluas adalah FKPT Goes to School/Campus. Inisiatif ini menyasar pelajar dan mahasiswa yang dinilai rentan terhadap infiltrasi paham intoleran melalui media sosial maupun lingkungan pergaulan.

Melalui program tersebut, diharapkan kalangan muda memiliki ketahanan diri yang kuat, berpikir kritis, serta tidak mudah terprovokasi narasi ekstrem.Ke depan, FKPT NTB juga merencanakan kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai instansi pemerintah maupun swasta guna menyamakan persepsi dan arah kebijakan strategis dalam pencegahan radikalisme dan terorisme, sehingga pelaksanaan program dapat berjalan lebih efektif dan terukur.

Rapat koordinasi tersebut ditutup dengan buka puasa bersama antara jajaran FKPT NTB, BINDA, dan BAIS dalam suasana kebersamaan, sebagai simbol soliditas dan komitmen bersama menjaga NTB tetap aman dan kondusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *