Rusia Tuduh Inggris dan Prancis Bantu Ukraina Kembangkan Senjata Nuklir

Jakarta, Nusranews – Rusia memperingatkan potensi pecahnya perang antara negara-negara bersenjata nuklir di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Ukraina. Moskow juga menuding Ukraina berupaya memperoleh senjata nuklir dengan dukungan Inggris dan Prancis.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa (24/2), Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan kekhawatirannya atas kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan nuklir.

“Kami sekali lagi memperingatkan risiko konfrontasi militer langsung antara kekuatan nuklir dan, dengan demikian, konsekuensi yang berpotensi sangat serius,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia pada Selasa (24/2).

Pernyataan tersebut dirilis bertepatan dengan peringatan empat tahun invasi Rusia ke Ukraina. Pada momentum yang sama, badan intelijen luar negeri Rusia, SVR, mengklaim bahwa Inggris dan Prancis menilai Ukraina akan memiliki posisi tawar lebih kuat dalam proses mengakhiri perang apabila menguasai senjata nuklir atau setidaknya perangkat yang dikenal sebagai “bom kotor”.

Menurut SVR, kedua negara Barat itu meyakini kepemilikan senjata tersebut akan meningkatkan daya tekan Kyiv dalam negosiasi.

Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti dokumenter yang mendukung tudingan itu.

Istilah “bom kotor” merujuk pada perangkat peledak yang dikombinasikan dengan material radioaktif untuk mencemari area yang luas. Meski demikian, perangkat ini berbeda sepenuhnya dari senjata nuklir strategis yang dirancang untuk menghasilkan ledakan atom berskala besar.

SVR juga menuduh London dan Paris terlibat aktif dalam skenario tersebut.

SVR menuduh London dan Paris “secara aktif bekerja” untuk menyediakan senjata nuklir dan sistem peluncurnya kepada Ukraina, sambil membuatnya seolah-olah Kyiv memperolehnya secara mandiri.

Klaim ini kembali ditegaskan tanpa adanya bukti dokumenter yang dipublikasikan kepada publik.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Inggris, Prancis, maupun Ukraina terkait tuduhan yang dilontarkan Rusia tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *