Praya, Nusranews – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menetapkan alokasi dana Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp2,5 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026. Nilai tersebut mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai Rp7 miliar.
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Lombok Tengah, Taufikurrahman, menjelaskan bahwa penyesuaian anggaran tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan realisasi belanja pada tahun sebelumnya yang tidak sepenuhnya terserap.
“Realisasi belanja BTT pada 2025 tidak semua digunakan,” ungkapnya.
Meski alokasi awal ditetapkan lebih kecil, Taufikurrahman menegaskan bahwa pemerintah daerah masih memiliki ruang untuk melakukan penambahan anggaran apabila terjadi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera.
“Artinya masih bisa disesuaikan jika ada kebutuhan untuk penanganan bencana alam. Secara regulasi masih bisa ditambah,” ia mengungkapkan.
Hingga saat ini, belum terdapat pengajuan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pemanfaatan dana BTT untuk penanganan dampak bencana.
“Belum ada pengajuan,” ujar Taufikurrahman.
Ia menjelaskan bahwa dana BTT diperuntukkan bagi kondisi darurat dan bersifat sementara, terutama untuk kebutuhan yang harus ditangani segera di lapangan.
“BTT itu sifatnya penanganan mendesak, sehingga alokasi nya untuk pembangunan sementara,” jelasnya.
Selain BTT, penanganan bencana juga didukung oleh program rutin dari OPD teknis, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial.
“Ada juga bantuan stimulan dan bantuan kebutuhan pokok juga dari Dinas Sosial,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Lombok Tengah, Ridwan Maruf, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem berupa angin kencang dan puting beliung yang terjadi pada pekan ketiga Januari 2026 mengakibatkan kerusakan puluhan rumah warga.
“Total sekitar 41 bangunan yang berdampak di 10 desa,” ungkap Ridwan.
Adapun desa yang terdampak angin puting beliung meliputi Desa Bilelando (3 KK), Jelantik (29 KK), Labulia (1 KK), Tanak Awu (1 KK), Teruai (1 KK), Laju (1 KK), Murbaya (1 KK), dan Nadia (1 KK).
Cuaca ekstrem tersebut juga menyebabkan belasan tiang listrik roboh, pohon tumbang, serta kerusakan pada sejumlah jembatan.
“Untuk tiang listrik yang roboh telah ditangani oleh PLN dan petugas gabungan juga langsung melakukan penanganan terhadap pohon tumbang,” jelasnya.
Selain angin kencang, hujan lebat yang mengguyur Lombok Tengah juga memicu banjir di sejumlah wilayah. BPBD mencatat ratusan kepala keluarga terdampak bencana tersebut.
“Total sebanyak 664 KK yang terdampak banjir,” kata Ridwan.
Wilayah terdampak banjir meliputi Desa Kabul (337 KK), Bonder (5 KK), Selong Belanak (109 KK), Tanak Rarang (16 KK), Kateng (15 KK), Kuta (27 KK), Pengembur (70 KK), Puyung (5 KK), dan Kidang (80 KK).
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menegaskan komitmennya untuk terus melakukan penanganan bencana secara bertahap melalui koordinasi lintas sektor, menyesuaikan dengan tingkat urgensi dan kebutuhan di lapangan.
