Mataram, Nusranews — Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Nusa Tenggara Barat, Masrin Hasanuddin, berharap Muktamar ke-24 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang akan digelar di Sulawesi Selatan mampu melahirkan arah gerakan baru yang adaptif terhadap tantangan zaman dan dinamika pelajar yang semakin kompleks.
Masrin menegaskan, IPM perlu merespons sorotan publik terhadap dunia pelajar dengan menghadirkan gagasan-gagasan progresif yang relevan dengan realitas hari ini. Menurutnya, gerakan pelajar tidak boleh stagnan, tetapi harus terus bertransformasi sesuai perkembangan sosial, teknologi, dan budaya.
“Di Muktamar ke-24 ini, penting untuk menegaskan kembali arah gerakan pelajar yang adaptif agar IPM tetap menjadi ruang pembinaan yang relevan dan solutif di tengah tantangan zaman,” ujar Masrin.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan empat pilar gerakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Pilar pertama adalah penguatan ideologis sebagai fondasi utama kader. Kedua, penguatan jejaring pelajar untuk memperluas kolaborasi dan solidaritas. Ketiga, reformasi birokrasi organisasi agar IPM lebih efektif, profesional, dan responsif. Keempat, penguatan literasi digital sebagai kebutuhan mendasar pelajar di era transformasi teknologi.
Masrin menilai, Muktamar XXIV IPM harus menjadi momentum untuk mendorong pembangunan potensi pelajar secara masif, melahirkan karya nyata, serta menumbuhkan kemandirian kader. Hal ini penting untuk meneguhkan misi intelektual publik kader IPM sebagai strategi jangka panjang.
“IPM harus melahirkan kader yang inovatif, kreatif, dan mandiri. Kader pelajar ke depan harus mampu menciptakan ruang-ruang produktif, bahkan lapangan kerja, di lingkupnya masing-masing,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kader IPM harus hadir sebagai problem solver, bukan justru menjadi sumber persoalan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat. Kader IPM, lanjut Masrin, harus terus menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah umat dan bangsa.
Muktamar ke-24 IPM mengusung tema “Membumikan Gerakan Arah Baru Ikatan Pelajar Muhammadiyah”. Masrin berharap tema tersebut dapat dimaknai secara substantif, khususnya di masa transisi kepemimpinan organisasi.
“Dinamika yang merugikan organisasi harus diakhiri. Kita perlu bersatu tanpa ego sentris geografis, memperkuat konsolidasi internal dan eksternal, serta mendukung program kerja ketua umum terpilih beserta struktur fungsionalnya,” ujarnya.
Ia juga berharap kepemimpinan hasil Muktamar XXIV mampu menumbuhkan kemandirian kader yang adaptif, kreatif, dan inovatif, sekaligus memiliki arah strategis dalam membangun kolaborasi dengan berbagai instansi dan lembaga pemerintah, khususnya dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang produktif.
Masrin menilai tema yang diangkat oleh Pimpinan Pusat IPM sangat strategis dan relevan dengan kondisi organisasi saat ini. Menurutnya, seluruh wilayah IPM di 38 provinsi se-Indonesia perlu melakukan reformasi gerakan secara menyeluruh dari akar rumput.
“Jika IPM ingin melangkah lebih jauh, maka harus membangun gerakan perubahan dengan memperbaiki kualitas gerakan—baik gerakan moral, intelektual, humanis, maupun kolektif-kolegial di seluruh wilayah,” pungkasnya.
