Ditjen Pesantren Dibentuk, Gibran: Ini Kekuatan Sosial Ekonomi Masa Depan

Jakarta, Nusranews – Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, memaparkan latar belakang keputusan Presiden Prabowo Subianto dalam membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di bawah Kementerian Agama (Kemenag).

Menurut Gibran, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, melainkan kekuatan besar yang tumbuh dan mengakar kuat di tengah masyarakat.

“Saat ini ada lebih dari 42.000 pondok pesantren dengan lebih dari 11 juta santri di dalamnya. Ini bukan sekadar angka, ini adalah kekuatan sosial ekonomi masa depan yang berakar di tengah masyarakat serta tumbuh dari tradisi dan semangat perjuangan,” ujar Gibran dikutip dari tayangan YouTube GibranTV, Sabtu (21/02).

Ia menegaskan, pesantren telah melahirkan banyak tokoh bangsa, mulai dari pejuang kemerdekaan, ulama besar, pemimpin umat, hingga wirausahawan yang menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Pesantren adalah warisan peradaban di mana ilmu dan akhlak bersatu. Dari pesantren, santri bisa mendapat bekal ilmu agama dan ilmu praktis kemandirian ekonomi seperti di sektor pertanian, peternakan, konveksi, hingga beragam industri halal,” ucapnya.

Gibran juga mencontohkan keberhasilan salah satu unit usaha pesantren yang produknya mampu bersaing di pasar global. Ia menyebut produk digital printing berkualitas yang digunakan oleh sebuah perusahaan di Belanda ternyata diproduksi oleh unit usaha Jitu Printing dari Ponpes Edi Mancoro di Semarang.

“Ini adalah bukti bahwa pesantren sebenarnya memiliki kemampuan menghasilkan produk yang mampu menembus pasar internasional,” kata dia.

Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat, pemerintah berharap pesantren dapat melahirkan santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai teknologi modern. Bidang-bidang seperti pertanian modern, peternakan modern, robotik, blockchain, hingga kecerdasan buatan (AI) dinilai perlu menjadi bagian dari pengembangan kapasitas santri.

“Para santri harus mampu menjadi pencipta peluang, menjadi pelopor inovasi yang menciptakan solusi, serta menjadi bagian dari perubahan tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai akhlak yang selama ini melekat pada diri para santri,” tuturnya.

Gibran menambahkan, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dibenahi secara bersama, mulai dari tata kelola pesantren, akses terhadap teknologi dan pelatihan, hingga kemudahan akses permodalan.

“Itulah sebabnya Bapak Presiden telah membentuk Direktorat Jenderal Pesantren untuk meningkatkan tata kelola layanan pendidikan di pesantren, menginventarisir permasalahan dan mencarikan alternatif solusi terhadap kendala yang dihadapi pesantren, serta mendorong transformasi pesantren menjadi pendorong inovasi dan ekonomi lokal,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *